Jatim Trip #3 : Bromo; Ini di Indonesia?


Ratusan orang, dari berbagai daerah, dari berbagai negara, berdiri di Puncak Penanjakan Kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, pada pukul 04.00, dimana udara dingin bertiup menerpa wajah kami yang menantikan kedatangan akan hangatnya sinar matahari di timur sana. Beberapa orang menghitung waktu demi waktu sambil memegang erat kamera yang sudah di setting sedemikian rupa untuk mendapatkan gambar saat terbangunnya sang mentari, beberapa orang memasang muka penuh harapan akan kehangatan yang akan menyapu dinginnya udara dini hari itu. 

12 Januari 2014

[Sunrise Gn. Penanjakan]

Setelah sekitar 2,5 jam perjalanan, akhirnya kami sampai di sebuah tempat dimana banyak sekali mobil jeep berjejeran disana, dan akhirnya kita sampai di pintu gerbang masuk kawawan Gunung Bromo! Begitu kita keluar dari mobil, para pedagang lokal yang menjual beragam pakaian hangat seperti kupluk, sarung tangan, syal dan bahkan ada yang menyewakan jaket menghampiri kami dan menawarkan dagangan mereka. Memang sih, udara dingin disini terasa sangat menusuk.

Tak berapa lama kemudian, akhirnya mobil jeep merah datang dan kita langsung menaikinya! gila meen supir jeep disini keren banget, mereka dini hari gini udah kaya balapan mobil aja di jalan yang super nanjak dan belok – belok ini. Supir kita, mas Eko, cerita soal kemaren – kemaren yang katanya gabisa liat sunrise karena langitnya mendung, dan memang katanya kalau lagi bulan – bulan musim hujan kaya sekarang tuh jarang banget ngeliat sunrise dan bahkan tadi pun sempat turun gerimis dan turun kabut, itu membuat kami tidak mengharapkan sunrise muncul kali ini. Dan ayah saya pun cerita, bahwa temannya sudah 3 kali ke bromo dan baru sekali liat sunrise disana. Wow sesulit itu kah melihat matahari terbit di Bromo?

Sampailah kita di pinggir jalan dimana kanan kami adalah jurang dan sepanjang jalan ini hanyalah jeep yang berjejeran, kami pun turun dan melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki. Berusaha menghangatkan diri, kami berhenti di sebuah warung dan makan beberapa gorengan dan minum teh manis, setidaknya menghangatkan perut lah. Setelah cemil cemil dan ada yang ke wc, kami lanjut jalan ke Gn. Penanjakan, tempat kami melihat sunrise di Bromo! Tangga – tangga kecil kita lewati dan tampaklah sebuah pondokan dengan banyak bangku panjang di depannya. Satu lagi, tempat ini sudah dipenuhi banyak orang! men baru jam setengah 4 mereka udah nungguin sunrise dari sebelum – sebelumnya. Kita mencari spot yang paling enak untuk liat sunrise dan akhirnya dapet di belakang pagar dimana mata kami langsung dapat melihat kawasan Gn. Bromo, Gn. Semeru, dan bahkan kawasan Tengger dalam satu frame.

SONY DSC SONY DSC

Detik demi detik kami lewati. Sambil menahan dinginnya udara di atas gunung, sambil berdiri di atas pagar untuk menyaksikan indahnya mentari, sambil memegang erat kamera demi tidak terlewatnya satupun momen dari terbangunnya sang mentari, perlahan, cahaya oranye muncul di kejauhan sana, langit yang semula berwarna hitam kini sedikit – demi sedikit menjadi biru dengan guratan oranye di timur sana. Beruntung sekali, sang surya mau menampakkan dirinya saat ini, saat musim hujan dimana biasanya pagi yang berkabut membuat sang surya malu untuk memperlihatkan keindahan dirinya. Setiap momen diabadikan dalam sebuah kamera, mulai dari muncul guratan oranye sampai mentari benar – benar menampakan kehangatannya. Perlahan kawah bromo yang diselimuti kabut tipis terlihat, perlahan kawasan pedesaan suku Tengger terlihat dengan rerumputan hijaunya, perlahan gunung semeru diatas sana disinari matahari yang membuatnya semakin gagah, perlahan sang mentari menghangatkan tubuh kami yang sudah diselimuti dingin sejak beberapa jam lamanya. Ratusan orang berdiri disana, menyaksikan keindahan dan kemegahan terbitnya sang mentari. Beberapa ucapan kagum dan syukur patut diucapkan saat momen ini.

SONY DSC SONY DSC SONY DSC SONY DSCSONY DSC

SONY DSC

Setelah cukup mengabadikan momen indah ini, kami turun dan sarapan indomie di warung di pinggir jalanan dan lalu melanjutkan perjalanan kami dengan jeep super keren menuju Savannah atau bukit teletubies!

[Kawasan Savanna / Bukit Teletubies]

Perjalanan dari penanjakan menuju kawah bromo sangat keren, kita melewati jalanan super terjal di pinggir tebing dimana kita bisa melihat pemandangan kawasan bromo secara langsung. Dan begitu sampai di kawasan berpasirnya, semua jeep seperti balapan reli offroad gitu, saling susul dengan kecepatan tinggi, kalian harus coba sensasinya sih jangan sampe tidur karena banyak view keren dan sensasi naik jeepnya sangat awesome! Sampailah kami di sebuah kawasan dimana ilalang hijau dimana mana. terasa seperti bukan di Indonesia, aku pun sempat bertanya – tanya, ini di Indonesia nih?

Sebuah bukit berwarna hijau di sebelah kanan, di sebelah kiri terdapat tebing hijau yang dihiasi bebatuan ala tebing, pokoknya pertama kali kalina melihat bukit teletubies, bikin kalian pengen guling – guling dari puncak bukit sampai ke bawah karena itu semua terlihat sangat mulus dan hijau sekali. Sulit mendeskripsikan keindahan bukit teletubies dengan kata – kata karena terasa seperti bukan di Indonesia, tapi terasa seperti di New Zealand bro kayak lagi syuting Lord od The Rings!

SONY DSC SONY DSC SONY DSC SONY DSC

[Pasir Berbisik]

“Kenapa namanya pasir berbisik mas? Emang pasirnya bisa bersuara kaya bisik bisik gitu?”

“Bukan mas, ini sebenernya diambil dari filmnya Dian Sastro, Pasir Berbisik”

Cover FIlm Pasir Berbisik

Begitulah sedikit bincang – bincang ayah saya dengan mas eko sang supir, yang ternyata pasir berbisik itu diambil dari nama filmnya Dian Sastro! Sebenernya disini gaada apa – apa sih, cuma pasir hitam dan panorama sekeliling yang indah, tapi sekali lagi ini masih seperti bukan di Indonesia! Katanya pasir di Bromo ini gaakan pernah ada yang curi karena kalau dijadikan bangunan, gaakan bisa nempel gitu sama semennya jadi kurang bagus buat bangunan, lagian mau ambil pasirnya juga udah susah sih udah padet gitu sama tanah disini. Di pasir berbisik ini kita foto – foto lagi karena foto – foto jadi kebutuhan primer sang traveler! hahaha.

SONY DSC

[Gunung Bromo]

Oke! akhirnya tibalah kami di sebuah kawasan yang super penuh dengan manusia. Jeep kami memasuki jejeran puluhan jeep lainnya yang sedang parkir, dan begitu turun kami langsung ditawari kuda. Akhirnya kami memutuskan untuk naik kuda dengan harga Rp 125.000,00 per kuda, soalnya kalau jalan kaki bisa cape sendiri kita. Pasir berwarna coklat, kuda – kuda yang digiring para pria bersarung dari Tengger, pasir – pasir beterbangan, dan kadang kabut turun menjadi panorama yang akan kita jumpai selama naik kuda di Gn. Bromo ini. Depan kami berdiri sebuah gunung yang tidak begitu tinggi tapi banyak sekali orang disana alias Gunung Bromo, di sebelah kanan ada gunung yang bentuknya unik bernama Gn. Patok, dan di sebelah kiri ada sebuah Pura Luhur Poten yang menjadi satu – satunya bangunan permanen di Kawasan Bromo ini. Layaknya sebuah istana, Pura Luhur Poten berdiri dengan gagahnya dikelilingi pegunungan, katanya pura ini tidak boleh dimasuki selain untuk tujuan ibadah.

SONY DSC SONY DSC SONY DSC SONY DSC SONY DSC

Tibalah kami di tempat yang namanya parkiran kuda! dari sini kuda tidak boleh lanjut naik lagi karena medannya terlalu sulit bro, dan kami semua harus menaiki tangga untuk melihat mulut bumi di Bromo ini yang selalu mengeluarkan asapnya. Setelah perjuangan menaiki tangga yang super tinggi menuju kawah bromo, akhirnya kami bisa melihat luapan asap yang keluar dari mulut bromo ini. Pemandangan ke bawah pun sangat luar biasa, pura yang tadi sangat megah kini menjadi kecil sekali di mata kami.

SONY DSC SONY DSC SONY DSC SONY DSC SONY DSC SONY DSC

Sungguh, indah benar ciptaanMu. Indonesia benar – benar indah dengan segala kondisi alamnya. Sampai – sampai awalnya saya tidak percaya kalau ini di Indonesia, kondisi alam jawa yang dominan tropis sangat berbeda jauh dengan kondisi alam di Gn. Bromo ini. Sungguh beruntung, kami bisa melihat sunrise di kala musim hujan dan lebih beruntungnya lagi, saat kami pulang, kabut turun dan membuat kami tidak bisa melihat apa – apa. Padahal sebelumnya, matahari terik membuat panorama bromo yang indah menjadi lebih indah.

page

Jatim Trip Index :

#1 Batu’s Jatim Park 2!

#2 Nikmatnya Makan Malam Diiringi Kroncongan di Inggil Resto & Museum

#3 Bromo : Ini di Indonesia?

#4 Wangi Tembakau di House of Sampoerna, Surabaya

#5 Gak Boleh Pake Celana Pendek di Masjid Sunan Ampel

#6 Jalan – Jalan di Madura (bonus: Lontong Kupang)

11 responses to “Jatim Trip #3 : Bromo; Ini di Indonesia?

  1. Ping-balik: Jatim Trip #1 : Batu’s Jatim Park 2! | Traveling Somewhere Out There·

  2. Ping-balik: Jatim Trip #2 : Nikmatnya Makan Malam Diiringi Musik Kroncong di Inggil Resto & Museum | Traveling Somewhere Out There·

  3. Ping-balik: Jatim Trip #4 : Wangi Tembakau di House of Sampoerna | Traveling Somewhere Out There·

  4. Ping-balik: Jatim Trip #5 : Gak Boleh Pake Celana Pendek di Masjid Sunan Ampel! | Traveling Somewhere Out There·

  5. waktu dulu masih ke bromo asal mlipir aja pakai tenda. jdi gak tahu banyak spot. setelah baca-baca dan lihat hasil jepretan ini sepertinya saya harus kembali ke bromo.Harus. hehehe.

    Suka

  6. Ping-balik: Jatim Trip #6 : Jalan – Jalan di Madura (bonus: Lontong Kupang) | Traveling Somewhere Out There·

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s