Mendarat di Waingapu, Sumba Timur


“Katanya Sumba itu cuacanya panas banget. Katanya orang – orang Sumba suka mengunyah sirih pinang. Katanya orang Sumba terlihat sangar tapi mereka baik. Katanya Sumba itu …”

Selama ini banyak orang bercerita tentang Sumba, entah kakak tingkat yang sudah pernah ke Sumba tahun lalu, entah dari tulisan orang di blog – blog. Tapi saat ini aku benar – benar ada di tanah Sumba dan kali ini aku tidak akan mendengar cerita tentang Sumba tapi aku sendiri yang akan melihat dan merasakan Sumba itu seperti apa.DSCN2146

Siang itu kami mendarat di Bandara Umbu Mehang Kunda, sebuah bandara di Waingapu, ibukota Kabupaten Sumba Timur. Saat ku keluar pe   sawat, memang terik matahari kala itu tapi hembusan angin yang kurasakan tidak seperti yang kubayangkan, sejuk, seakan menyeimbangkan panas terik matahari yang memang sangat panas.

Bandara Umbu Mehang Kunda memang terbilang kecil. Kami masuk kedalam ruangan dan mengambil semua barang – barang yang ada di bagasi dan yang dititipkan lewat kargo. Kami pun keluar bandara dan kami disambut oleh kerumunan orang Sumba! Agak bingung sih rasanya kaya di terminal di daerah jawa aja nih banyak banget yang nawarin jasa ojeg. Tapi untung kita udah dijemput oleh mobil hotel dan mobil salah satu informan kami.

8 orang dan belasan tas super besar diangkut dua mobil, kami berencana menginap di Hotel Sandlewood selama 2 malam untuk melakukan persiapan sebelum hidup di Desa Kadahang nantinya seperti belanja perbekalan dan pengurusan perizinan. Selama perjalanan kami melihat tidak ada perbedaan jauh antara kota di Jawa dan Waingapu, yah kurang lebih mirip lah suasananya juga tidak jauh berbeda. Hanya saja memang background pemandangan di belakang sana bukanlah pegunungan berwarna hijau, melainkan bukit berwarna kuning gersang.

Sandlewood

Waingapu adalah kecamatan ibukota Kabupaten Sumba Timur, memang paling ‘metropolitan’ di seantero Sumba Timur. Sudah seperti kota bisa dibilang. Di dekat hotel Sandlewood ada segalanya, dari hotel belok kanan kita akan bertemu terminal dan di sebelahnya ada Pasar Inpres, tidak jauh darisana pun banyak toko toko yang menjual segala macam. Jalan ke arah belakang hotel ada taman kota yang siang hari isinya es kelapa muda berjejer dan malam hari jadi tukang nasi goreng. Di dekat sana pun banyak sesuatu seperti rumah makan, warnet, SPBU, dan masjid. Pokoknya tidak perlu kendaraan kalau mau kemanapun dari Sandlewood, kecuali kalau mau ke kantor pemerintahan yah lumayan cukup jauh kalau pake ojeg bisa Rp 25.000 sekali berangkat.

Begitu sampai di Waingapu, kami disambut oleh Umbu Uspraing (umbu adalah panggilan untuk laki – laki sumba). Dia adalah orang Waingapu yang sudah banyak memberikan informasi kepada kita sebelum berangkat. Satu hal yang dia katakan di awal pertemuan kami adalah, kalau datang ke sumba jangan ragu, orang Sumba menganggap tamu adalah orang paling spesial. Orang sumba diberi uang sebagai tanda terimakasih pun tidak mau, mereka pasti menolaknya karena menurut mereka membantu tamu yang datang ke sumba adalah suatu keharusan. Satu hal lagi yang dia katakan, kalau orang sumba tidak pernah memandang agama terhadap orang lain, mereka menganggap kita ini satu sebagai orang Indonesia, dan menurutku ini spoiler kalau toleransi di Sumba sangatlah tinggi dan ini benar adanya.taman waingapu

Tapi, di Waingapu sudah banyak orang pendatang dari luar Sumba, contohnya saja yang berjualan makanan disini kebanyakan orang Jawa. Disini banyak yang berjualan nasi goreng dan bahkan ada warung nasi jawa. Selain itu juga ada warung Padang. Hal yang membuktikan kalau di Waingapu sudah kebanyakan pendatang adalah, kami melihat sebuah monumen di taman kota dengan tulisan “mbenim uhang hangga opang” dan kami bertanya kepada orang yang ada dekat sana dan dia tidak tahu jawabannya. Yap mungkin orang Sumba asli masih tinggal di desa – desa sana.

17 responses to “Mendarat di Waingapu, Sumba Timur

  1. Uggghh Sumba benar-benar menggoda saya, jadi pengen mengikuti jejaknya Mas Fauzan 😀

    Suka

  2. saya penasaran sekali dengan sumba, kemarin sempet daftar untuk menyapa indonesia dari riset dikiti, dan saya memilih ke sini untuk penempatannya..semoga saja bisa berjumpa dengan anak-anak dengan latar belakang pendidikan yang masih kurang..masnya tau ga informasi tentang ini?

    Suka

    • Wah tau tuh menyapa indonesia tadinya mau daftar tapi pelaksanaannya pas banget waktu saya ujian di kampus 😦

      Suka

  3. Ping-balik: Satu Bulan di Tanah Sumba | pergikemana·

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s