Satu Bulan di Tanah Sumba


Sudah satu tahun lebih kami pulang dari Pulau Sumba. Yap, setahun lalu kami berangkat ke Sumba untuk bisa dibilang jalan – jalan bermanfaat, terutama manfaat bagi kami jauh lebih besar dan kami berharap kami pun telah memberi sedikit manfaat bagi masyarakat Kadahang.

OLYMPUS DIGITAL CAMERABeberapa hari yang lalu aku melihat sebuah berita di Line Today, dimana berita itu berisi berita salah satu resort di Pulau Sumba, Nhiwatu menjadi hotel terbaik di dunia! Wah! Pasti sekarang turis-turis dari traveler, backpacker, sampai pegiat instragram pasti akan beramai – ramai datang ke Sumba! Beruntung aku sudah merasakan ‘Wah’ nya Sumba sebelum jadi tempat hits yang mainstream, meskipun tidak sampai Nihiwatu wk.

Sebelumnya baca juga postingan tentang Ekspedisi Pelita Muda dan Kadahang dibawah ini

Ekspedisi Pelita Muda II: First Step

Mendarat di Waingapu, Sumba Timur

Selamat Datang di Desa Kadahang

Kalau diingat – ingat setaun lalu, banyak sekali ke amazing an Sumba, khususnya Kadahang yang kita rasakan.

 

nightMalam Sjahdoe Bertabur Bintang

Malam pertama, malam seterusnya, dan seterusnya sampai akhir langit malam di Kadahang selalu membuat kami takjub. Dari hamparan miliaran bintang yang terlihat 360 derajat mata memandang, gugusan galaksi bimasakti yang membentang dari ujung cakrawala, sampai bulan purnama yang berhasil membuat bayangan kami tidak pulang walau sudah malam.

Cukup melangkah keluar rumah pada malam hari lewat pintu dapur kita sudah bisa menyaksikan langit malam, atau jalan sedikit 50 m ke belakang rumah, tepatnya ke pondok sinyal (yak, di pondok ini kita bisa dapat sinyal hape padahal di tempat lain gaada, kecuali di jendela tengah ruang tamu kaca pojok kiri bawah). Sampai – sampai, di malam pertama Ramadhan kita sengaja berangkat ke Kadahang Barat yang tempatnya lebih tinggi dan terbuka dan menginap disana dengan hanya beralaskan matrass dan benar – benar beratapkan bintang!

 

SunsetHamparan Savanna Terhampar Sinar Matahari

Sumba apalagi kalau bukan savanna nya! yap awal – awal kami tinggal di Sumba memang kami sangat takjub dengan alamnya. Savanna luas berbukit – bukit dengan rerumputan yang berwarna kuning dan disinari matahari, terlebih saat sunset memang super sekali. Sempet mikir sih, kayanya orang – orang sini udah biasa dengan savanna jadi mereka ga takjub lagi, waktu itu kita juga mikir sebulan pasti kita udah bosen sama savannanya. Salah bro, kita masih – masih aja takjub sama savanna dan alam sumba yang masih bersih dan indah.

 

SONY DSCKearifan Lokal Sumba

Memang pada awalnya kami cukup terbutakan oleh keindahan alam sumba dan baru menyadari bahwa keindahan sebenarnya ada pada masyarakat dan kearifan lokal di Sumba ini, khususnya Kadahang. Kami disadarkan bahwa inilah kearifan – kearifan lokal Indonesia yang sudah jarang bahkan tidak pernah kami lihat lagi di perkotaan. Mulai dari bertegur sapa dengan orang lain bahkan orang yang tidak dikenal yang berpapasan di pinggir jalan pun akan saling memberi senyuman. Bahkan kami, yang bisa dibilang orang luar, selalu disapa dengan ramah oleh warga sampai – sampai dipersilakan duduk di teras rumahnya.

Selain itu, toleransi antar warganya sangat tinggi. Singkat cerita, kami datang pada bulan Ramadhan dimana kami harus berpuasa, lalu muslim di daerah kami merupakan kaum minoritas. Di Kadahang sendiri hanya ada 2 keluarga muslim dan 2 keluarga itu masih sanak saudara. Bayangkan untuk sholat Jum’at saja kita harus pergi ke kecamatan, daerah Rambangaru namanya. Kalau menggunakan mobil/motor sekitar 45 menit. Disana terdapat mesjid dan saat Sholat Jumat, jumlah safnya pun hanya sekitar 2 saf lebih dikit. Tapi, hebatnya, warga disini sangat toleran terhadap kami, sangat menghargai. Untuk hewan ternak yang akan dijadikan  makanan, kami harus menyembelihnya sendiri karena mereka tau kita punya tatacara sendiri dalam menyembelih hewan. Selain itu, kami pernah berkunjung ke sebuah tempat bersama kepala desa, disana kami ditawari makan siang dan memang seluruh orang disana makan siang bersama, kecuali kami. Setelah itu, mungkin mereka rasa kurang enak, tiba – tiba kami dikasih ayam hidup wk untuk nanti buka puasa katanya. Indahnya tenggang rasa bro.

Banyak sekali adat istiadat khas Sumba yang masih dipegang disini. Mulai dari memberi kapur sirih bagi tamu (ini wajib disuguhkan bagi tamu, mau diambil atau tidak, kapur sirih ini menandakan tuan rumah mengindahkan tamu yang hadir. Tapi harus coba, asli, rasanya pedes – pedes anyep berliur gitu). Lalu, di Kadahang sendiri ada kebiasaan pesta, mulai dari anak lahir, ulang tahun, bahkan sampai perpisahan kami pun dibuat pesta. Kami selalu diundang ke pesta-pesta itu dan yah selalu makan banyak, selalu makan daging, dan seringkali diakhiri dengan para lelaki yang mabuk-mabukan sambil joget ria mendengarkan musik.

 

4Terus?

Kami lakukan banyak hal disana, mulai dari berjalan – jalan, mengobrol, berdiskusi, ikut ke kebun, membersihkan tangki air reservoir, memasang katrol sumur, dan banyak hal lainnya. Tapi, setelah aku bertemu dengan ‘dunia’ yang berbeda dengan dunia kita, semakin sadar bahwa yah kita ini ga ada apa-apa nya. Meskipun sudah sekolah tinggi – tinggi di kuliah, sudah dapat nilai bagus di kampus, aktif di organisasi, tetap saja, saat  melihat dan mendengarkan ada rasa-rasa ingin membantu mereka tapi dengan segala keterbatasan ilmu, tenaga, pikiran, dan sumberdaya, pada akhirnya tetap saja kami tidak bisa membantu. Mungkin bisa, tapi sedikit saja sesuai kapasitas.

Memang terlalu jauh kalau berpikiran kita bisa mensejahterakan masyarakat dengan kegiatan pengabdian masyarakat yang diadakan mahasiswa, banyak keterbatasan mulai dari ilmu, waktu, bahkan dana. Pada akhirnya, mungkin malah kita yang mendapat manfaat lebih banyak saat kegiatan seperti ini. Manfaat wawasan, pola pikir, cara pandang lain, dan seharusnya ini semua bisa meningkatkan rasa kepekaan sosial kita terhadap kondisi masyarakat sebenarnya. Yah, saat ini sebatas melihat, mendengar, merasakan, dan memahami. Semoga kedepannya, semua yang didapat bisa bermanfaat bagi yang membutuhkan manfaat itu, saat ilmu, waktu, dan dana sudah bukan menjadi batasan.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

“Memang sedikit yang kami lakukan, tapi itu semua kami lakukan untuk Indonesia”

ohya, ada video seruseruan waktu kami di Sumba kemarin, enjoy

source foto dan video: Dokumentasi Pelita Muda ITB

16 responses to “Satu Bulan di Tanah Sumba

  1. Ah beruntungnya sudah sampai ke Sumba. Iya saat ini Sumba mulai dilirik untuk dijadikan tujuan wisata, dan tidak lama lagi pasti seperti Flores, menjadi mainstream. Dengan naiknya tingkat kesadaran berwisata di Indonesia, sepertinya daerah eksotis yang diekspos sedikit tidak lama bakal jadi tempat wisata beramai-ramai.

    Suka

    • nah iya sayang sekali kalau warga sana ga siap menerima itu bakalan di eksploitasi sama pebisnis dan bisa jadi dampaknya negatif

      Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s